Opini Publik:
Pejabat Negara Adalah Pelayan Rakyat, Bukan Bos Rakyat
Oleh: Andi Bondan
Pemimpin Umum Koran DinamikaXpos dan Dinamikaxpress.com

Pejabat negara sejatinya adalah jongos-jongos rakyat, pelayan yang digaji untuk mengabdi, bukan untuk dihormati apalagi dipuja. Namun, realitas di lapangan justru berbanding terbalik. Banyak pejabat hari ini yang merasa dirinya “bos rakyat”, menuntut penghormatan, bahkan ingin selalu dilayani. Padahal, yang menjadi “tuan” sesungguhnya adalah rakyat, pemilik sah Republik ini.
Rakyat tersenyum pahit menyaksikan kelakuan para pejabat yang lupa diri. Mereka hidup dari gaji yang bersumber dari keringat rakyat, namun justru kerap menyakiti hati rakyat dengan kebijakan yang tidak berpihak, pelayanan yang buruk, bahkan praktik korupsi. Mereka menuntut gaji besar, tetapi kinerja yang diberikan sering kali mengecewakan. Ironisnya, sebagian malah tega merampok uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan umum.
Sudah saatnya para pejabat kembali pada jati dirinya: pelayan rakyat yang tunduk pada konstitusi. UUD 1945 dengan tegas menyebutkan dalam Pasal 34 Ayat 1 bahwa “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Amanat ini jelas, bahwa negara wajib hadir untuk mengangkat harkat kaum miskin dan melindungi anak-anak terlantar, bukan malah membiarkan mereka merangkak dalam kemiskinan di tengah negeri yang kaya raya.
Ingatlah sumpah jabatan yang kalian ucapkan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa ketika dilantik. Sumpah itu bukan formalitas, melainkan janji sakral yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
Karena itu, wahai para pejabat negara, buanglah jauh mental korup dan rakus. Layani rakyat dengan tulus. Hargai mereka yang telah mempercayakan Anda memegang amanah. Jangan biarkan rakyat kecil terus menjadi penonton di atas panggung kemakmuran negeri yang seharusnya mereka nikmati.
Rakyat adalah tuan, pejabat hanyalah pelayan. Maka, bekerjalah sebagai pelayan yang baik, sesuai amanat konstitusi dan sumpah jabatan.