Cianjur, Dinamikaxpress.com– Malam itu, Jumat 5 September 2025, udara dingin mulai menyelimuti kawasan Jalur pendakian Gunung Gede via Gunung Putri berada di Kampung Gunung Putri, yang merupakan bagian dari Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.


Satu per satu rombongan Dinamika Adventure tiba di basecamp Putri Kaguri, membawa semangat yang sama: menjelajahi alam dan mempererat kebersamaan lewat pendakian Gunung Gede Pangrango. Mengusung tema Explore Nature, ekspedisi ini diikuti oleh sembilan pendaki yang dikomandoi langsung oleh Bung Feri dan Bung Iwan selaku swiper lapangan.
Dari Basecamp Menuju Legok Leunca
Sabtu pagi, 6 September, perjalanan dimulai dengan doa singkat. Trek menanjak menyambut di jalur awal, langsung menguji napas dan langkah. Namun tawa tetap pecah di antara kru DinamikaXpos, seolah lelah tertutupi oleh semangat. Pos 1 Legok Leunca menjadi pemanasan sebelum pendakian serius dimulai.
Menyusuri Rimbunnya Buntut Lutung
Di Pos 2 Buntut Lutung, suasana hutan rimbun dengan suara alam menjadi irama perjalanan. Kamera-kamera para kru sibuk merekam momen, menegaskan identitas mereka sebagai tim ekspedisi yang selalu menyelipkan sisi jurnalistik dalam petualangan.
Kabut Tipis Lawang Seketeng
Perjalanan makin menanjak hingga Pos 3 Lawang Seketeng. Di sinilah kabut tipis turun, menghadirkan nuansa mistis yang justru menambah khidmat langkah. Tanjakan mulai terasa berat, tapi arahan Bung Feri dan Bung Iwan menjaga ritme agar semua tetap solid.
Simpang Maleber: Ruang Berbagi Cerita
Menjelang sore, tim beristirahat sejenak di Pos 4 Simpang Maleber. Sambil memulihkan tenaga, Bung Iwan membagikan cerita-cerita pengalaman pendakian terdahulu. Bagi anggota muda, kisah itu bukan sekadar hiburan, melainkan juga pengingat tentang pentingnya respek terhadap gunung.
Surya Kencana: Hadiah Edelweis
Setelah perjuangan panjang, akhirnya hamparan edelweis di Surya Kencana (± 2.750 mdpl) menyambut. Alun-alun luas ini seakan menjadi karpet emas bagi para pendaki. Di sinilah tenda didirikan. Malam itu, suasana hening hanya ditemani langit berbintang dan angin pegunungan.
Puncak Gede: Menyambut Mentari Jawa Barat
Minggu dini hari, 7 September pukul 04.30 WIB, tim melangkah menuju Puncak Gunung Gede (2.958 mdpl). Udara dingin menusuk, namun semangat tak goyah. Saat cahaya pertama menembus cakrawala, seluruh tim sudah berdiri di atap Jawa Barat. Panorama matahari terbit menjadi saksi keberhasilan ekspedisi ini.
“Pendakian ini bukan soal siapa paling kuat, tapi bagaimana kita menjaga ritme bersama, saling menguatkan, dan tetap menikmati setiap langkah. Gunung selalu mengajarkan kerendahan hati,” ujar Bung Feri dengan wajah puas.
Di sisi lain, Bung Iwan menambahkan dengan nada reflektif:
“Alam adalah sahabat terbaik kita. Semoga perjalanan ini membuat kita lebih peduli, bukan hanya kepada tim, tetapi juga pada kelestarian hutan dan gunung yang kita cintai.”
Turun Gunung dengan Senyum
Sekitar pukul 13.00 WIB, perjalanan turun dimulai. Meski tubuh terasa letih, wajah-wajah bahagia tak bisa disembunyikan. Tiba kembali di basecamp Kaguri pukul 17.00 WIB, seluruh tim menyelesaikan ekspedisi dengan selamat.
Bagi DinamikaXpos Adventure, perjalanan ini bukan sekadar catatan ketinggian. Ia adalah ruang untuk mempererat solidaritas, merawat kepedulian terhadap alam, dan menguatkan semangat kebersamaan. Gunung Gede, dengan segala pesona dan tantangannya, kembali mengukir cerita baru bagi para pencinta petualangan.
Gunung Gede Pangrango, Primadona Wisata dan Konservasi Jawa Barat
Gunung Gede Pangrango kembali menjadi sorotan publik sebagai salah satu destinasi wisata alam paling populer di Jawa Barat. Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), gunung kembar ini menawarkan panorama hutan tropis, padang edelweis, hingga kawah aktif yang memikat para pendaki.
Gunung Gede yang menjulang setinggi 2.958 meter di atas permukaan laut berdampingan dengan Gunung Pangrango yang lebih tinggi, yakni 3.019 meter. Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional sejak 1980 dan masuk dalam jaringan Cagar Biosfer Dunia UNESCO karena kekayaan hayati yang dimilikinya.
Selain menjadi tujuan wisata, kawasan Gunung Gede Pangrango juga berfungsi sebagai pusat konservasi. Satwa langka seperti owa jawa, macan tutul jawa, hingga elang jawa hidup di hutan lebat yang masih terjaga. Sementara itu, di Alun-alun Surya Kencana, hamparan bunga edelweis abadi menjadi daya tarik utama para pendaki.
Akses menuju puncak bisa ditempuh melalui beberapa jalur resmi, di antaranya Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana. Setiap tahunnya, ribuan pendaki dari berbagai daerah memadati jalur pendakian, terutama saat musim liburan.
Pihak Balai Besar TNGGP mengimbau para wisatawan untuk tetap menjaga kebersihan dan kelestarian alam. “Gunung ini bukan hanya milik kita sekarang, tapi juga generasi yang akan datang,” ujar salah satu petugas TNGGP.
Dengan keindahan dan keanekaragaman hayatinya, Gunung Gede Pangrango terus menjadi kebanggaan Jawa Barat sekaligus laboratorium alam yang berharga bagi dunia.
(Red)